Oleh: Maby MoanebySeorang guru adalah sahabat yang baik buat siswa-siswanya bukan sebagai seorang musuh. sahabat bermain, sahabat bercerita, sahabat belajar dan lain sebagainnya. Guru-guru di papua pada umumnya menjadi musu dengan murud-muridnya, sehingga angka putus sekolah dari tingkat SD, SMP,dan SMA semakin tinggi.
Memang kita sadari bahwa menjadi seorang guru adalah pekerjaan yang gampang-gampang susah, karena harus memahami sifat-sifat indifidu siswa yang berbeda. Kadang ada yang terlalu cepat menangkap pelajaran yang di ajarkan dan ada juga yang menangkap pelajaran setela diulang-ulng beberapa kali.
Kebanyakan anak–anak yang putus sekolah adalah anak-anak yang kategori menangkap pelajaran setelah di jelaskan beberapa kali. Anak-anak ini mereka tidak mengerti jika pelajaran yang diajarkan oleh guru bila dijelaskan Cuma satu kali, sehingga mereka tidak bisa mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru tersebut.
Bila tugas yang diberikan itu tidak di kerjakan otomatis murit tersebut dapat sangsi atau hukuman. hukuman yang diberikan oleh guru ini bukan hukuman yang ringan namun dicambuk bertubi-tubi dengan rotan yang kering sampai anak tersebut menangis menjerit kesakitan.
Setelah anak tersebut di cambuk oleh guru dalam diri anak tersebut akan tumbu seribu satu macam pikiran, saya ini tidak dihargai, saya tidak diterima, saya ini bodo dari teman-teman saya yang lain, akhirnya tidak ada rasah percaya diri yang tumbu pada anak tersebut. Sehingga anak tersebut menjadi pemalas, tukan melawan, tidak mengerjakan tugas, terlambat datang ke sekolah, kadang jarang masuk sekolah, dan Sampai akhirnya anak tersebut keluar sekolah.
Walaupun murid yang bertahan dan melanjutkan jenjang pendidikan selanjutnyapun bila Ia perna merasakan hal yang sama seperti murid-murit yang keluar sekolah karena merasa tidak dihargai, bodok dari teman-teman lain, sifat tersebut susa untuk ditinggalkan. bahkan sifat ketidak percayaan diri ini akan terbawa samapai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sehingga sifat malu bertanya bila pelajarannya tidak mengerti, atau takut mengungkapkan jawaban ketika guru bertanya walaupun dia sudah tau jawabannya.
Mengapa anak-anak Putus sekolah..?Jawabannya cukup sederhana yaitu mereka ingin hidup bebas tanpa tekanan, ancaman, kemarahan dari guru di sekolah. Maka pilihan satu-satunya yang mereka pilih adalah keluar sekolah. Memang pepata mengatakan bahwa emas ada di ujung rotan, tetapi pepata tersebut tidak berlaku lagi, karena perkembangan zaman. zaman sekarang bukan zaman belanda lagi. Cara belajar dan mengajar sudah berubah seiring perkembangan zaman.
Guru bukan tentara atau polisi di sekolah, tetapi guru adalah sahabat yang baik buat murid-muridnya.
Guru yang baik adalah:
(1). guruh yang pintar mengendalikan emosinya,(2). Jangan membawa persoalan-persoalan yang tidak menyenangkan dari rumah atau dari tempat lain ke dalam kelas sewaktu dia mulai mengajar,
(3). Berusaha menjawab setiap pertanyaan yang diajukan siswa, (4). Harus dapat menerima hidup ini sebagai mana adanya, poin ini sangat penting di pahami oleh seorang guru karena dengan adanya pemekaran kabupaten baru ini banyak guru yang meninggalkan tugas mulia yang Tuhan berikan dan semuanya lari ke politik,
(5). Jangan mencemoohkan siswa yang tidak pandai di kelas dan jangan mempermalukan siswa (yang salah sekalipun) di muka orang banyak. Namun pangillah siswa yang bersalah dan bicaralah dengan baik-baik, tidak berbicara dan berlaku kasar pada siswa,
(6). Jangan membeda-bedakan siswa yang pandai/mampu dan siswa yang kurang pandai/kurang mampu Serta tidak memuji secara berlebihan terhadap siswa yang pandai di hadapan siswa yang kurang pandai.
Banyak sekali teman-teman saya yang putus sekolah karena musu dengan guru, dari bangku SD, SMP, SMA bahkan samapai sekarang Tingkat perguruan tinggi, karena musu dengan dosen. Hal ini tidak perna terlepas dari kehidupan di bangku pendidikan oleh sebab itu kita sebagai mahasiswa yang nantinya akan terjun ke masyarakat dan menjadi pengajar kita harus belajar dari pengalaman- pengalaman ini demi menciptakan manusia-manusia papua yang berintelektual. Agar kita bersaing dengan Negara-negara lain yang sudah maju.
Kita tidak perlu salahkan siapa-siapa, namun marilah kita rapatkan barisan membangun sumberdaya manusia di tanah kita tercinta , tanah papua. Banyak sekolah-sekolah yang kosong karena tidak ada guru, banyak sekali adik-adik kita yang ingin mau belajar namun mereka haus akan kehadiran seorang guru yang baik. Ini tanggung jawab kita bersama, baik Pemerintah, Mahasiswa, Pelajar, dan Masyarakat. Terutama kita masiswa sebagai orang terpelajar janganlah kita lari ke politik semua.
Coba kita lihat guru-guru tua di kampung-kampung terpencil dengan semangat yang berkobar-kobar masih mengajar walaupun usia mereka semakin senja. Seperti Bapak Zakarias Petege di mapai, sekarang ini dalam hati Bapak Zakarias petege ini sedang menangis mengharapkan sosok seorang pemuda yang melanjutkan tongkat estafetnya sebagai seorang guru. Marilah kita Wujutkan semboyang nenek moyang suku mee yaitu: “UWAA KOMOKAA TOO KOMOKAA.”
Mahasiswa Universitas Pakuan Bogor
- GURU ADALAH SAHABAT YANG BAIK BAGI SISWA

Oleh: Agustinus Dogomo*)
Miras (minuman keras) merupakan minuman yang mempunyai kadar alkohol yang tinggi dan sangat membahayakan bagi kekebalan tubuh manusia. Minuman ini juga secara pelan-pelan membunuh karakter manusia atau mematikan manusia.
WTS (wanita tuna susila) atau Pelacur merupakan wanita-wanita yang dipekerjakan di tempat lokalisasi maupun hotel-hotel untuk menjual diri agar bisa mendapatkan uang. Kalau berbicara mengenai WTS atau pelacur maka tidak jauh dari penyakit HIV dan AIDS, karena wanita yang bekerja di lokalisasi atau hotel-hotel tersebut adalah wanita yang jelas sudah mengidap HIV dan AIDS. Dan wanita-wanita ini dibawah datang dari luar pulau papua, dan sebarkan ke seluruh pelosok papua.
Kedua masalah tersebut yang saya sudah tuliskan di atas ini, merupakan masalah serius dari banyak masalah yang ada di papua untuk memusnakan orang Papua. karena kedua masalah tersebut sudah, sedang dan akan terjadi di Papua selagi kita tidak mengatasinya. Lalu menjadi pertayaan Mungkinkah? Ini suatu penjajahan yang sedang di lancarkan oleh orang luar papua melalui dua hal tersebut. Lalu mengapa tidak ada tanggapan dari orang papua siapa saja? Baik pemerintah maupun rakyat.
Mengapa saya mengatakan demikian? Karena salama ini saya mengamati, mendengar , bahkan melihat pembiaran minuman keras yang masuk ke Papua, melalui setiap kali kapal yang masuk di papua, oleh pemerintah maupun masyarakat. Selain itu juga, membiarkan toko-toko tetap saja untuk menjual minuman keras. Dan minuman yang di bawah dari luar adalah lebelnya beda dengan daerah luar Papua (lebel khusus). Lalu masalah tersembunyi adalah pengusaha yang menjual minuman keras, kerja sama dengan para pihak keamanan.
Kalau kita mengamati selain miras, mereka pun membuka, tempat lokalisasi di setiap daerah pelosok Papua seperti, Nabire Belok Kanan di Samabusa, Jayapura di Sentani kiri (Tanjung Elmo) Numbay, Belrusak di Merauke, Sawaerma di Asmat, lima-lima di Manokwari, Muara, gunung susu,pasir putih, jalan irian, air terjun akua di Wamena, dan hampir satiap daerah itu ada tempat-tempat tersebut. Selain nama yang saya sudah tulis mereka pun mepekerjakan WTS (wanita tuna susila) atau pelacur di hotel-hotel di tanah Papua.
Sangat disayangkan karena orang papua entah pejabat, mahasiswa, masyarakat menjadi korban miras dan WTS (wanita tuna susila) dan pelacur yang kerja lokalisasi. Mengapa mereka jadi korban, karena mereka rame-rame untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut. Yang mengherankan juga adalah uang yang seharusnya mereka gunakan dengan keluarga, mereka menghabiskan di sana.
Akhir-akhir ini saya membaca berita di media masa, mendengar cerita orang yang datang dari papua, atau menonton TV lokal papua banyak orang papua yang meninggal itu di sebabkan oleh minuman keras dan penyakit HIV dan AIDS yang di peroleh dari WTS dan Pelacur, di tempat lokaisasi. Karena banyak penduduk yang meninggal maka sekarang jumlah penduduk orang luar lebih banyak di bandingkan penduduk pribumi (orang papua asli). Sangat ditakutkan adalah penduduk pribumi (orang papua asli) menjadi minoritas di negrinya sendiri. Masalah ini bukan main-main tetapi kenyataan yang sedanng terjadi di lapangan sekarang. Karena itu kedua masalah tersebut menjadi penyakit sosial yang sangat berbahaya di Papua. Dan angka kematian di papua sangat meninggkat di bandingkan daerah lain yang ada di Negara Indonesia.
Setelah melihat dua masalah tersebut di atas, maka ada beberapa solusi yang bisa di kita tempu untuk menyelesaikan masalah tersebut. Untuk mengatasi masalah tersebut adalah pemerintah membuat peraturan daerah (perda) tentang pelarangan mengonsumsi miras dan pelarangan penjualan minuman keras. Setelah membuat peraturan daerah tentang pelarangan mengonsumsi dan penjualan miras, harus bisa diimplementasikan kepada masyarakat. Untuk lokalisasi pun demikian. Untuk menyelesaikan masalah tersebut di atas harus ada saling terbuka antara pemerintah dan masyarakat setempat. Tetapi kalau pemerintah sendiri yang melakukan hal tersebut maka kita harus sadar dan tidak boleh melakukan mimpi buruk tersebut. Kita harus membuat penyuluhan tentang dua masalah tersebut di atas. orang-orang yang bekerja di bagian agamapun harus menyadarkan orang papua melalu pewartaan injil. Selain itu orang papua harus menyadari tentang hal tersebut karena sesuatu yang keluar dari dalam lebih kuat, dibandingkan sesuatu yang kita terima dari luar.
Sekali lagi Miras dan WTS atau Pelacur adalah masalah yang sangat berbahaya yang sudah, sedang , dan akan terjadi di tanah Papua maka mari kita segera mengatasi masalah tersebut. Karena kedua masalah tersebut sudah memakan banyak korban orang papua. Yang kita perlu sadari juga bahwa kedua masalah tersebut adalah cara yang paling ampuh untuk memusnakan suku bangsa Melanesia. Miras dan WTS atau Pelacur adalah salah satu penjajahan terselubung atau halus yang di lancarkan oleh pihak-pihak tertentu. Selain banyak masalah yang terjadi di Papua.
(Penulis: Mahasiswa Simester I, Jurusan Pemerintahan, Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa Yogyakarta)
- Miras , WTS atau Pelacur Menjadi Masalah Sangat Berbahaya Di Tanah Papua

Oleh: ANDY POGITO PIGAI
Pakaian adat laki-laki dan perempuan
Adat atau istiadat adalah merupakan aturan perbuatan atau tingkah laku dalam suatu daerah yang mana berjalan dan dipegang secara turun temurun dari generasi ke generasi. Dan juga kebiasaan tata cara hidup kelakuan dan sebagainya yang sudah mentradisi. Setiap daerah mempunyai adat yang berbeda perbedaan adat istiadat ini dilihat dari bahasa, kekerabatan, dan lain sebagainya. wujud kebudayaan terdiri atas nilai-nilai budaya, perbedaan cara berpakaian dan pakaian adat dalam satu suku seperti halnya perbedaan pada pakaian adat laki-laki dan perempuan. Pakaian adat yang mana sering disebut dengan koteka (pakaian adat laki-laki) dan moge (pakaian adat perempuan). Pakaian adat tersebut merupakan tradisi bagi anak negeri Papua yang mendiami bagian pegunungan tengah Papua
Pakaian adat laki-laki
Jika anda mengenal topik yang diatas ini berarti sudah tahu jati-diri dan sudah memahami tentang budaya dari leluhur. Anah Panah merupakan senjata yang berupa benda panjang, tajam pada ujungnya dan diberi bulu pada pangkalnya yang akan dilepaskan pada sasarannya. Panah sering digunakan disaat perang, dangsa (emaa), ataupun disaat berburu. Bulu pada anak panah berasal dari hewan berbulu seperti pada ekor babi. Berbulu hewan di hutan pada siang hari adalah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Berburu berbagai jenis hewan secara massal biasanya delakukan pada saat malam hari, menjelang bulan Desember dalam rangka Natal, Paskah juga pada saat kelahiran seorang bayi, dengan tujuan pengucapan syukur pada sang Ugatamee
Untuk menjelaskan pakaian adat itu menggunakan dan memakainya khusus untuk laki-laki. Koteka; menutupi alat kemaluan laki-laki berbentuk lonjong, dipakai oleh beberapa suku di papua, khususnya bagian pegunungan tengah, terbuat dari buah labu yang dikeringkan. Koteka; artinya pakaian tradisional pegunungan tengah menutupi alat kemaluan laki-laki. Cara memakainya Koteka tersebut memasukkan gelang dan nengikat talinya supaya orang koteka sebelum memasang talinya harus kita memasang gelang koteka dulu, supaya kuat dan dengan posisi memakainya koteka kita mengaktivitas dengan baik menutupi alat kemaluan laki-laki. menutupi dada susu bagian kanan laki-laki supaya kita harus kuat dan juga menadakan angin besar atau dampak dari luar. Sebab kondisi kita akan kuat dan tidak lemah.
Kagane; Artinya gelang tangan yang biasanya memakai dibagian lengan tangan atas kiri dan kanan laki-laki. penyebabnya angin atau dampak dari luar tidak memperbolehkan masuk kedalam tubuh manusia. Penyebab angina masuk kedalam tubuh manusia dampaknya akan terjadinya sakit. Maka kita harus mempersiapkan gelang sebelum terjadinya sakit. kalong yang mengambil dari sejenis binatang kecil bentuknya seperti gigi anjing kalong tersebut biasanya pakai bagian leher laki-laki supaya menyembunyikan kita punya leher. Akibatnya menyembunyikan sebuah selangka agar mudah masuknya sejenis binatang berbentuk ular itu bisanya pada waktu malam akan terbang keng kemana-mana, panjat pohon dan melompat pohon ke pohon yang lain. Penyebabnya ular itu bisa masuk kedalam tubuh manusia lewat selangka manusia bahkan orang sampai bisa meninggal/ almarhum
Yumamito; Artinya sepotong kepala burung itu memakainya dibagian hidung laki-laki. Sebab dampak dari luar lewat udara tidak bisah masuk, karena penyebab dari luar tidak di izinkan masuk kedalam hidung kita ambil nafas dalam-dalam lalu keluakan.
Ogii dinai; Artinya tanah merah itu kita gosok dibagian muka waktu perang, tempat dangsa supaya tunjukkan jantang atau merahmu laki-laki
Migabai; Artinya selimut dan juga sekalian siang malam harus kita memakainya supaya menjaga kondisi tubuh kita dan juga biasanya memakai dibagian kepala laki-laki
Waiyo; Artinya buluh kasuari itu biasanya memakai dibagian kepala itu waktu dangsa dan juga waktu perang supaya kita membuktikan jadi kita jangan memakainya sembarang laki-laki
Kiduu; Artinya wayar alat trodisional biasanya memakai dibagian leher dan tangan masukkan itu waktu kiat perang harus memakainya orang yang pertama supaya harus kita menang laki-laki
Tune; biasanya memakai dibagian kepala laki-laki
Pakaian adat perempuan
Pakaian adat khusus untuk perempuan adalah merupakakan berbagai macam tersebut berikut ini:
1) Moge adalah pakian adat tradisional perempuan yaitu dua yang pertama danemoge ini khusus untuk mama-mama pengunungan tengah papua atau sering memakai orang yang sudah kawin sedangkan yang kedua yaitu dugamoge ini khusus untuk cewek atau orang yang belum kawin jadi suku lain atau daerah lain masuk daerah suku mee bertanda atau bisa dibedakan bahwa pakaian adat memakai dengan danemoge berati orang yang punya suami sedangkan pakaian adat memakai dengan dugamoge berrarti sudah bertanda bahwa cewek atau perempuan yang masih belumkawin.
2) Yato merupakan salah satu noken yang paling besar menggunakan untuk siang dan malam. Siang sering diisi berbagai bibit tanaman mengambilnya dari kebun lama kemudian tanamnya dikebun yang baru, dan sering digunakan untuk mengisikan berbagai kayu yang kering potong pendek-pendek memikul untuk kayu bakar, juga sering digunakan untuk berbagai sayur-sayuran buah-buhan mengisi untuk menjual buat biaya studi anaknya. Sedangkan yang kedua malam sering digunakan untuk selimut khusus untuk perempuan karena pedalaman pengunungan papua barat daerah tropis maka malam menyelimuti dengan yato berarti tidur nyenyak pas dan nyaman sampai pagi.
3) Agiya artinya noken adalah salah satu untuk mengisikan berbagai macam noken khusus untuk mama dan juga didalam noken itu khusus-khusus yang pertama noken yang sering digunakan, yang kedua noken khusus untuk isi ubi sarapan sehari punya, yang ketiga noken khusus isi makanan sarapan sehari punya anak kecil, yang keempat noken kecil isinya dengan periasan perempuan, sedangkan yang kelima adalah noken khusus untuk isi mege untuk membiayai studi anaknya. Noken khusus-khusus karena dari leluhur kami suku mee sudah ditetapkan cara membawa jadi perempuan pengunungan tengah papua barat shususnya suku mee mengikuti dari dulu hingga sekarang sampai akhir jaman.
4) Dau paga dau
5) Dau pagadau
6)
Larangan-larangan
larangan bagi laki-laki
Jerat tali yang ujungnya disimpulkan pada tali itu juga sehingga merupakan lubang yang disempitkan dan dilonggarkan untuk menangkap kuskus, burung dan sebagainya.
Menjelaskan untuk laki-laki tersebut:
1. Boke diyo; artinya larangan jerat adalah larangan-larangan sebelum kita memasang jerat. ada bermacam-macam larangan yang kita harus dituruti dan juga sudah di tetapkan oleh dari leluhur kita antara lain: tidak boleh minum, setelah memasang jerat kita tidak diperkenankan melihat kebelakang, pada saat kita memasang jerat tidak boleh kentut, saat memasang jerat tidak diperbolehkan membuang air kecil maupun besar di dekat jerat yang sedang memasang karena kuskus memcium bau lalu akan menjauhi dari depan jerat akan menoleh ke belakang karena sudah tahu bahwa ada memalang jalan kuskus, tidak diperkenankan setubuh dengan istrinya, semua kesimpulan bahwa ketentuan larangan di atas harus kita dituruti maka hasilnya berlimpah, dan juga kalau kita tidak di turuti ketentuan –ketentuan yang ada maka hasilnya tidak mendapat kukus pulang dengan tangan hampa.
2. Piya diyo; artinya larangan kayu yang kita sebelum pergi tebang kayu, kita jangan mendekati istri karena apa yang besok kita akan menebang kayu itu nantinya akan lapuk cepat dan juga kita punya rencana jadi akan batal. Sebab tenaga kita rugi karena, kayunya sudah lapuk jadi mendingan harus kita mencari kayu supaya kita kerja dobel karena kita tidak mengikuti larangan-larang yang sudah ditentukan dari daulu tete, nene moyang kita dan turun temurun.
3. Gaamete diyo; artinya larangan belah kayu sebelum kita pergi membelah kayu, kita tidak memperbolekan minum pagi dan juga tidak boleh mendekati istrinya, kedua larangan diatas tersebut kalau kita melanggar tidak berhasil karena melanggar peraturan yang sudah ditentukan dari leluhur kita.
4. Wotate diyo; Artinya larangan cincang sebelum kita mengincangkan kita tidak memperbolehkan kampaknya mengosokkan atau menghasakan dari orang lain, maka kampaknya akan menumpul karena kita tidak diperbolekan dari orang lain.
5. Koma diyo; Artinya larangan perahu alat kendaraan di air itu sebelum menebang kayunya kita tidak memperbolehkan untuk kita sedang pergi menebang kayu di hutan karena kita tidak memperbolehkan memegang daun kayu, kalau kita memegang daun kayu memutuskan lebih bagus kita jangan kerja karena kita sedang membuat perahu itu akan bocor/terbelah. Sebab kita tidak dituruti larangan yang ada dari jaman daulu.
6. Maduate diyo; artinya larangan potong kayu untuk membuat perahu sebelum kita memotong, kita tidak memperbolehkan kampaknya memegang anak, istrinya, injak, dan dipinjam orang lain sebab kampak itu akan tumpul. Sebab kita tidak turuti larangan yang sudah ditentukan dari nenek moyang kami dan juga dari generasi kegenerasi. Seandainya kita menuruti larangan yang ada dari jaman dahulu sebab kampak kita harus mengasahkan supaya tajam dan juga mudah mengerjakan dengan semangat supaya pekerjaan kita cepat menyelesaikan
7. Bugi diyo; Artinya larang kebun sementara orang ada kerja dikebun itu orang lain tidak memungkinkan untuk lewat atau injak, sebab orang yang sedang ada kerja itu langsung soak. Akibatnya sudah melanggar aturang yang sudah ditentukan dari nenek moyang atau turun temurun.
8. Duwa uwete diyo; Artinya larang tujuan ditanah rantauan engkau melewati kali diatas batu ada air mengalir itu kita tidak bolekan untuk injak, sebab nantinya kita akan jatu karena engkau sendiri salah. Akibatnya kita tidak mengikuti aturang yang sudah ditetapkan dari jaman daulu.
9. Yoka modogaka diyo; Artinya larang hamil sementara istri hamil lalu butu laki-laki itu tidak memungkinkan untuk kayu puta dibakar, sebab permintahan andah tidak mengabulkannya. Akibatnya kita tidak mengikuti sudah ditentukan dari jaman daulu.
Larangan bagi perempuan
Dengan menggunakan perlengkapa pakaian adat khusus untuk perempuan maupun perlengkapan yang lain itu disebut (Ebai). Artinya tangguk yang sering menggunakan juga khusus-khusus untuk tangguk ikan, udang, berudu, dam sepatung capung berbagai alat tangguk sebagai berikut:
1. Ebai; Artinya tangguk, kerangjang dari rotan atau jaring berbingkai untuk menangkap ikan, udang, berudu dan sebagainya.
2. Udi ebai; Artinya tangguk udang adalah binatang berkulit keras, berkaki sepuluh dan berekor, hidup di air, banyak macamnya seperti udang galah, udang geragau, udang laut, udang lubuk, udang karang dan sebagainya.
3. Toba ebai; Artinya tangguk berudu anak katak, mangsa ini juga sering hidup didalam air yang deras menyempel ke batu jadi menangkap mansa ini dengan cara yang paling berat
4. Yukuga ebai; Artinya tangguk sepasin adalah binatang yang akan menjadi sepatung, capung mangsa ini juga sering hidup di bagian rawa dalam becek dan cara memangap mangsa ini gampang tetapi lama-lama berarti sakit pinggung, tulang belakang jadi isi mangsa ini sepotong bambu kumpul-kumpul sampai sudah full belarti tutup dengan penutupnya. Pulang kerumah dan masak mangsa itu enak sekali dan ingin terus.
5. Dane moge; Artinya rok khusus untuk mama-mama
6. Duga moge; Artinya rok khusus untuk cewe
7. Dau paga dau; Artinya kalong khusus untuk perempuan biasa memakainya dibagian leher jadi bermacam-macam warna kalong yaitu hitam, putih berbintik biru, putih aslih bulat dan orengs. Jadi hitam ini biasanya ditanam dalam tanah akan tumbuh besar menjadi akan bercabang-cabang kemudian berbuah sampai tua akan petik lalu mengeluarkan kulitnya dan menjemurkan supaya kering lalu memasang tali kedalam manik-manik proses produk akhirnya akan jadi kalong manik-manik produk.
8. Larangan noken khusus/pribadi untuk perempuan jadi orang lain tanpa izin tidak memungkinkan untuk meraba, mencari dan memegangnya. Seandanya kita mencuri barang sesuatu didalam noken itu. penyebabnya sama saja memasuki tangan sendiri didalam perutnya orang lain.
9. Nota awi agiya; Artinya noken ubii khusus untuk isi ubii
10. Napo awi agiya; Artinya noken sayur hitam khusus untuk mengisi sayur hitam
11. Yato; Artinya selimut lebih khususnya untuk memakai perempuan pada waktu malam hari, pada waktu siang hari mereka digunakan untuk isi kayu, dan juga menggunakan mengisi bibit tebu, pisang, ubii jalar, petatas, sayuran dan lain-lain.
Mahasiswa Jurusan Informatika
AKTEPI Yogyakarta
- MENGENAL TRADISI SUKU MEE

Sudah lama dunia pendidikan formal (sekolah) kita dikritik sebagai tempat yang kurang nyaman bagi siswa didik dalam mengeksplorasi dan menumbuhkembangkan jatidiri. Sekolah tak ubahnya kerangkeng penjara yang menindas para murid. Mereka harus menjadi sosok yang serba penurut, patuh, dan taat pada komando. Imbasnya, mereka menjadi sosok mekanis yang kehilangan sikap kreatif dan mandiri. Mereka belum terbebas sepenuhnya dari suasana keterpasungan dan penindasan.
Yang lebih mencemaskan, dunia persekolahan kita dinilai hanya menjadi milik anak-anak orang kaya. Usai menuntut ilmu, mereka menjadi penindas-penindas baru sebagai efek domino dari proses dan sistem yang selama ini mereka dapatkan di sekolah. Sungguh sangat beralasan jika banyak pengamat pendidikan yang menilai bahwa dunia persekolahan kita selama ini hanya melahirkan kaum penindas. Sementara itu, anak-anak dari kalangan masyarakat kelas bawah yang tidak memiliki akses terhadap dunia pendidikan hanya akan menjadi kacung dan kaum tertindas.
Situasi keterpasungan dan ketertindasan yang berlangsung dalam dunia pendidikan kita, disadari atau tidak, telah menimbulkan resistensi dari para penggiat sosial. Mereka banyak merintis berdirinya pendidikan alternatif yang berupaya membebaskan peserta didik dari situasi keterpasungan dan penindasan. Kalau dalam dunia persekolahan kita identik dengan penyeragaman dan indoktrinasi, pendidikan alternatif mencoba memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk menentukan pelajaran yang disukai atau memilih jenis aktivitas yang sesuai dengan minat dan hobi mereka masing-masing, bebas upacara, bahkan bebas ujian. Tempat belajar pun tak selalu berada di sebuah gedung yang mentereng atau laboratorium ber-AC, tetapi bisa berlangsung di bawah jembatan, tepian rel kereta api, atau di gubug-gubug kardus.
Bisa jadi, maraknya pendidikan alternatif semacam itu terilhami oleh ide-ide cemerlang dari Paulo Freire, seorang tokoh pendidikan asal Brasil. Ia dikenal sebagai seorang tokoh yang sangat kontroversial lantaran keberaniannya menggugat sistem pendidikan yang telah mapan dalam masyarakat Brasil. Sistem pendidikan yang ada dianggap sama sekali tidak berpihak pada rakyat miskin, tetapi sebaliknya justru mengasingkan dan menjadi alat penindasan oleh penguasa. Karena hanya menguntungkan penguasa, menurut Freire, pendidikan yang hanya melahirkan kaum penindas semacam itu harus dihapuskan dan digantikan dengan sistem pendidikan yang baru.
Sekilas tentang Paulo Freire
Freire lahir pada tanggal 19 September 1921 di Recife, Timur Laut Brasilia. Masa kanak-kanaknya dilalui dalam situasi penindasan karena orang tuanya yang kelas menengah jatuh miskin pada tahun 1929. Setamat sekolah menengah, Freire kemudian belajar Hukum, Filsafat, dan Psikologi.
Sambil kuliah, ia bekerja “part time” sebagai instuktur bahasa Potugis di sekolah menengah. Ia meraih gelar doktor pada tahun 1959, lalu diangkat menjadi profesor. Dalam kedudukannya sebagi dosen, ia menerapkan sistem pendidikan “hadap-masalah” sebagai kebalikan dari pendidikan “gaya bank”. Sistem pendidikan hadap masalah yang penekanan utamanya pada penyadaran siswa didik menimbulkan kekhawatiran di kalangan penguasa. Oleh karena itu, ia dipenjarakan pada tahun 1964, kemudian diasingkan ke Chile. Pengasingan itu, walaupun mencabut ia dari akar budayanya yang menimbulkan ketegangan, tidak membuat idenya yang membebaskan “dipenjarakan”, tetapi sebaliknya ide itu semakin menyebar ke seluruh dunia. Ia mengajar di Universitas Havard, USA pada tahun 1969-1970.
Pandangan Paulo Freire tentang pendidikan alternatif lahir dari suatu pergumulan dalam konteks nyata yang ia hadapi dan sekaligus merupakan refleksi terhadap filsafat pendidikan yang berporos pada pemahaman tentang manusia. Masyarakat feodal (hirarkis) merupakan struktur masyarakat yang umum berpengaruh di Amerika Latin pada saat itu. Dalam masyarakat feodal yang hirarkis ini terjadi perbedaan mencolok antara strata masyarakat “atas” dengan strata masyarakat “bawah”. Golongan atas menjadi penindas masyarakat bawah dengan melalui kekuasaan politik dan akumulasi kekayaan, sehingga menyebabkan golongan masyarakat bawah menjadi semakin miskin yang sekaligus semakin menguatkan ketergantungan kaum tertindas kepada para penindas itu.
Dalam kehidupan masyarakat yang sangat kontras itu, lahirlah suatu kebudayaan yang disebut Freire dengan kebudayaan “bisu”. Kesadaran refleksi kritis tetap tidur dan tidak tergugah. Akibatnya, putaran waktu hanya dilihat sebagai sekat hari ini yang menghimpit. Manusia tenggelam dalam “hari ini” yang panjang, monoton dan membosankan, sedangkan eksistensi masa lalu dan masa akan datang belum disadari sepenuhnya. Dalam kebudayaan bisu semacam itu, kaum tertindas hanya menerima begitu saja segala perlakuan dari kaum penindas. Bahkan, ada ketakutan pada kaum tertindas akan adanya kesadaran tentang ketertindasan mereka.
Untuk menguasai realitas hidup, termasuk menyadari kebisuan itu, bahasa harus dikuasai. Menguasai bahasa berarti mempunyai kesadaran kritis dalam mengungkapkan realitas. Pendidikan yang dapat membebaskan dan memberdayakan adalah pendidikan yang membuat siswa didik dapat mendengar suaranya yang asli. Pendidikan yang relevan dalam masyarakat berbudaya bisu adalah mengajar untuk membuat mereka mampu mendengarkan suaranya sendiri dan bukan suara dari luar, termasuk suara sang pendidik.
Dalam kondisi semacam itu, Freire terpanggil untuk membebaskan masyarakatnya yang tertindas dan yang telah “dibisukan”. Pendidikan “gaya bank” dilihatnya sebagai salah satu sumber yang mengokohkan penindasan dan kebisuan itu. Disebut pendidikan gaya bank, sebab dalam proses belajar mengajar guru tidak memberikan pengertian kepada siswa didik, tetapi memindahkan sejumlah dalil atau rumusan kepada siswa untuk disimpan, yang kemudian akan dikeluarkan dalam bentuk yang sama jika diperlukan. Siswa didik adalah pengumpul dan penyimpan sejumlah pengetahuan, tetapi pada akhirnya siswa didik itu sendiri yang “disimpan” karena miskinnya daya cipta. Pendidikan gaya bank dinilai hanya menguntungkan kaum penindas dalam melestarikan penindasan terhadap sesamanya manusia.
Untuk menghapuskan pendidikan gaya bank, Freire menawarkan pendidikan alternatif melalui sistem pendidikan hadap-masalah. Dalam proses pendidikan semacam ini, kontradiksi guru-murid (guru menjadi sumber segala pengetahuan, sedangkan murid menjadi orang yang tidak tahu apa-apa) tidak ada. Siswa didik tidak dilihat dan ditempatkan sebagai objek yang harus diajar dan menerima. Demikian pula sebaliknya, guru tidak berfungsi sebagai pengajar. Guru dan murid adalah sama-sama belajar dari masalah yang dihadapi. Guru dan siswa didik bersama-sama sebagai subyek dalam memecahkan permasalahan. Guru bertindak dan berfungsi sebagai koordinator yang memperlancar percakapan dialogis. Ia adalah teman dalam memecahkan permasalahan. Sementara itu, siswa didik adalah partisipan aktif dalam dialog tersebut. Materi dalam proses pendidikan pun tidak diambil dari sejumlah rumusan baku atau dalil dalam buku paket, tetapi sejumlah permasalahan yang diangkat dari kenyataan hidup yang dialami oleh siswa didik dalam konteksnya sehari-hari.
Quovadis Dunia Pendidikan Kita?
Lantas, adakah relevansi antara pendidikan alternatif ala Freire dan dunia pendidikan (formal) kita? Dari setting sosial dan kultural, struktur masyarakat kita memang berbeda dengan kondisi masyarakat Brasil. Namun, berdasarkan struktur hierarkis masyarakat kita yang cenderung bergaya feodal, agaknya pendidikan alternatif ala Freire bisa dijadikan sebagai bahan analogi dan refleksi terhadap dunia pendidikan kita yang dinilai belum mampu membebaskan siswa didik dari keterpasungan dan ketertindasan.
Konon, pemegang kendali dalam feodalisme modern adalah kelompok pedagang/pengusaha yang menguasai ekonomi lebih dari setengah kekayaan yang ada. Kelompok tersebut mengakumulasikan kekayaan kurang lebih 80% kekayaan Indonesia, padahal jumlah mereka tidak lebih dari 20 % dari jumlah penduduk. Kedua kelompok “penindas” tersebut semakin memperkokoh kekuasaannya sebab secara praktik hanya mereka yang mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi yang sangat mahal dan terpola dalam sistem kekuasaan itu. Generasi itulah yang kemudian menjadi pewaris “tahta penindasan”. Kalau ada dari kelompok rakyat kecil yang mampu mengecap pendidikan tinggi, ia akan berubah menjadi pemegang kendali feodalisme baru, baik dalam rangka balas dendam maupun dalam “penindasan” terhadap sesama kaum “tertindas”. Salah satu kritikan Freire adalah pendidikan yang berupaya membebaskan kaum tertindas untuk menjadi penindas baru. Bagi Freire pembebasan kaum tertindas tidak dimaksudkan supaya ia bangkit menjadi penindas yang baru, tetapi supaya sekaligus membebaskan para penindas dari ketertindasannya.
Kritikan Freire agaknya masih cukup relevan jika kita kaitkan dengan fenomena korupsi yang dinilai sudah menjadi budaya yang mengakar dalam masyarakat kita. Korupsi dengan berbagai bentuknya merupakan manifestasi dari imbas proses pendidikan kita yang dianggap belum sanggup membebaskan dan mencerahkan siswa didik dari perilaku yang kerdil dan cacat moral. Mereka ingin menjadi neo-borjuis, neo-feodal, atau penindas-penindas baru secara instan melalui praktik korupsi sebagai upaya untuk mengembalikan modal sebagai dampak mahalnya biaya pendidikan. Quovadis dunia pendidikan (formal) kita kalau hanya melahirkan borjuis dan penindas-penindas baru?
Jangan salahkan pendidikan alternatif kalau dunia pendidikan (formal) kita gagal menyediakan tempat yang nyaman bagi masyarakat miskin untuk menimba ilmu. Jangan ratapi pula maraknya koruptor yang masih terus bebas melenggang mengemplang harta negara kalau tak ada perubahan mendasar dalam desain dan sistem pendidikan kita. Juga, jangan tangisi puluhan sarjana gadungan yang harus menggadaikan harkat dan martabat kemanusiaannya dengan membeli ijazah palsu kalau struktur masyarakat kita masih memberhalakan feodalisme dan borjuisme! ***
sumber: http://sawali.info/2009/05/17/sekolah-paulo-freire-dan-pendidikan-alternatif/
- Sekolah, Paulo Freire, dan Pendidikan Alternatif