Kirim Berita Anda Melalui E_mail Kami

ipmadokorwilsesal@gmail.com

PEMEKARAN WILAYAH MEMEKARKAN POLA PIKIR MANUSIA

Senin, Juni 08, 2009

Egeidaby--Dalam Rapat koordinasi kerja (Raker) Ikatan pelajar dan Mahasiswa Dogiyai di JogJakarta, tanggal (6/06), Sesco B. Dimi, mengawali pengarahannya dengan menjelaskan bahwa Pemekaran wilayah telah dipandang sesuatu yang mampu menyelesaikan persoalan-persoalan rakyat, dengan pandangan demikian mendorong kelompok-kelompok elit local yang terdiri dari kaum Intelektual, elit politik, dan elit birokrasi dari setiap daerah menyatukan diri dan mendorong pemekaran wilayah, gelombang awal dicobanya dengan memekarkan provinsi Papua, dimana provinsi Papua di dorong menjadi tiga Provinsi yakni provinsi Irian Jaya Barat, Provinsi Irian Jaya Tengah, dan Provinsi Irian Jaya Timur, kemudian Irian Jaya Barat sepakat dengan pemekaran beberapa wilayah kabupaten, seperti kabupaten Paniai saat itu. Sementara dari daerah lainnya mulai menyusun kekuatan-kekuatan elit dan mendorong berbagai pemekaran kabupaten, Pemekaran wilayah dari kabupaten induk ke kabupaten baru ini telah mengelompokan orang dalam satu administrasi wilayah, dimana orang-orang tersebut menyatakan dan menunjukan diri sebagai orang yang berasal dari daerah tersebut, dengan demikian sifat meninggikan diri dengan kedaerahan tersebut bermunculan sebagai sikap, dengan sikap ini pulalah pola pikir manusia sebagai satu etnis suku semakin pudar, kini kabupaten bukan lagi lintas suku, tetapi sudah masuk ke dalam suku, pemekaran kabupaten paniai di ikuti oleh Dogiyai dan disusul lagi dengan Deiyai sekarang.

Dengan pemekaran-pemekaran wilayah kabupaten ini, kita berpikir bahwa pemekaran wilayah ini tidak serta merta mengikuti pemekaran dalam segi lainnya, tetapi dengan pemekaran wilayah ini sudah memekarkan pemikiran-pemikiran orang, dan semakin dikotak-kotakan pemikiran manusia, dimana suku mee mengaku diri bahwa bukan Nabire tetapi dari kabupaten Dogiyai, Paniai, dan Deiyai. demikian hanya dengan berpikir seperti itu saja ada bibit-bibit isme dan sentiment-sentimen wilayahnya.


MAHASISWA DOGIYAI
Dengan demikian generasi muda yang sedang ada di bangku studi saat ini, setelah kuliah pasti akan kembali ke kampung masing-masing di Dogiyai, disana kita sedang dinantikan oleh Masyarakat, kita akan terkontaminasi dengan lingkungan yang ada, selanjutnya kita akan mempertebal isme kampung dalam satu pergolakan politik lokal hasil ciptaan senior di masing-masing daerah.
Selanjutnya lelaki kelahiran kampung Egebutu ini menyatakan bahwa ada keprihatinan dengan arah generasi muda ke depan, mengingat masing-masing daerah yang tadinya distrik itu secepatnya dan sekejap didepan mata telah berubah status menjadi kabupaten. Dengan semangat pelaksanaan Otonomi daerah yang sedang di maknai sarinya dengan memekarkan kabupaten-kabupaten baru itu.

Semangat otonomi khusus terlepas dari dinilai efektif atau tidak efektif, elit-elit lokal baik elit politik, elit birokrasi maupun kaum intelektual semakin melirik-lirik celah dengan pemekaran, lirikannya bukan berpikir bagaimana arah pembangunan daerah-daerah pemekaran tersebut dengan kondisi obyektif saat ini, tetapi harus dapat apa di wilayah pemekaran kabupaten ini?.
Dalam kesempatan ini lanjutnya saya sebagai senior dari Mahasiswa Dogiyai di Jawa dan Bali merasa senang dan bangga ketika adik-adik mahasiswa Dogiyai memiliki pandangan dan punya satu ikatan mahasiswa yang solid dan mampu mengkoordinir hingga bisa bertemu dan melakukan diskusi-diskusi tentang perkembangan dan keadaan di kabupaten Dogiyai.
Putra kelahiran Lembah hijau Kamuu, Kampung Egebutu 27 tahun yang lalu ini, dalam kapasitasnya sebagai perintis dan pendiri IPMADO, beliau memberikan beberapa saran kepada Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Dogiyai (IPMADO) yang tengah menggelar Rapat Koordinasi kerja di JogJakarta, dalam penjelasannya Sesco Dimi menggaris bawahi bahwa Mahasiswa Dogiyai harus bersatu dan independen.
Petikan pandangan dan uraian penjelasan yangbermanfaat bagi Ikatan Mahasiswa Dogiyai dalam penjelasannya adalah sebagai berikut:

Dalam sambutannya sebagai senior yang merintis terbentuknya IPMADO di Jawa dan Bali ini mengucapkan terimakasih kepada rekan-rekan pengurus IPMADO dan seluruh anggota IPMADO yang mengundang saya sebagai senior dalam acara rapat kerja ini, rasa hormat dan kebanggaan saya, disini saya hanya memberikan beberapa pandangan saya tentang bagaimana kedepan Ikatan ini. Hal yang pertama adalah, “merubah paradigma organisasi” artinya IPMADO yang adik-adik sudah bentuk ini sebagai langkah awal dimana adik-adik bisa bertemu, bisa tukar pikiran dan harapan saya kekompakan dan persatuan serta persatuan dalam Ikatan ini terus dijaga dan terus dikembangkan melalui kegiatan-kegiatan yang sifatnya bisa saling memberi dorongan, memotivasi satu sama lainnya dan saling mengingatkan. Lanjutnya (sesco: red,) bahwa adik-adik harus merubah paradigma organisasi atau ikatan. IPMADO jangan seperti organisasi mahasiswa Papua lain pada umumnya, yang mana selama ini organisasi atau paguyuban berfungsi seolah ada apabila ada kegiatan natal atau acara wisuda, bukan seperti itu yang kakak harapkan, tetapi adik-daik harus jadikan IPMADO sebagai tempat untuk belajar dan melatih diri, artinya adik-adik belajar bagaimana cara berorganisasi yang baik, contohnya: bagaimana cara memimpin pertemuan dengan baik. Menjadikan IPMADO tempat berlatih mulai dari hal yang kecil, melatih diri dan membiasakan diri mengemukakan pendapat didepan forum, menanggapi pernyataan atau pendapat lawan bicara, melatih dan belajar bagaimana menghargai pendapat orang lain, dan bagaimana mendengarkan pembicaraan lawan bicara.

Lebih dari itu, jangan selalu menutup dan mengurung diri dengan egoisme yang nanti akan mencelakakan diri sendiri ke depan. Selanjutnya dengan tegas beliau mengingatkan kepada adik-adik bahwa pemekaran wilayah sedang memekarkan pola pikir dan pola pemahaman seseorang ke arah isme-isme itu. Dengan demikian saya tegaskan bahwa IPMADO Se Jawa-Bali harus dan mampu menyatukan Mahasiswa Dogiyai kedepan, dalam satu kesatuan organisasi mulai dengan satu pemahaman bahwa kalau bukan generasi muda kedepan siapa yang akan menanggung dosa paket pemekaran itu, ungkapnya dalam rapat koordinasi kerja tersebut. IPMADO harus membangun mitra dengan siapa saja, dan dengan elemen apa saja ke depan, salah satunya adalah dengan Pemeintah Daerah Dogiyai sendiri. Namun pemerintah Dogiyai pun harus menyadari dan memahami akan hal ini. Pemerintah Dogiyai pun jangan membuat dan menanamkan bibit-bibit perpecahan antara mahasiswa setiap kota studi, tetapi diharapkan juga bahwa pemerintah Daerah Dogiyai memberikan dukungan dan mendorong penyatuan mahasiswa secara nasional.

Yang terpenting bagi adik-adik harus Independen, pengurus yang ada sekarang ini mampu mencari waktu untuk menggali dan mengkaji persoalan-persoalan yang ada di daerah, khususnya di Dogiyai dan rajin menulis sehingga itu bisa menjadi masukan, saran, serta kritikan kepada pemerintah Daerah Dogiyai dalam merumuskan Strategi pembangunan di daerah.
Mahasiswa yang tak lama lagi akan wisuda dari kampus Institut Manajemen Jakarta ini juga menyatakan, bahwa satu hal yang perlu diingat adalah Pilkada untuk Dogiyai akan digelar tahun 2010, perlu ada sikap dan pernyataan dari mahasiswa yang harus dituangkan dalam bentuk tulisan sebagai pencerahan politik bagi masyarakat awam. Dikarenakan, banyak kasus terjadi di dalam pemilu 2009, dimana terjadi penyimpangan-penyimpangan yang merugikan rakyat, juga caleg-caleg bersama parpolnya. Akibatnya, di beberapa kampung di Dogiyai terjadi konflik dan kontak fisik. Pengalaman ini mengingatkan kita, bahwa sebagai mahasiswa dengan sikap netral tanpa memihak kepada siapa pun. Mahasiswa memunyai sikap dan bukan bahwa berarti mahasiswa berpolitik saya tidak bermaksud seperti itu, tetapi sebagai anak daerah yang peduli akan pembangunan tentu tidak menginginkan terjadi masalah lagi dalam Pilkada nanti. Namun eksistensi kita sebagai mahasiswa harus tetap di pertahankan dalam sikapnya.
Mengakhiri pembicaraannya beliau menegaskan kembali bahwa mahasiswa Dogiyai dimana pun berada saatnya harus bersatu, menata diri, menata pemahaman dan menentukan arah generasi muda Dogiyai kedepan dalam hal ini khususnya pendidikan dan pengembangan sumber daya Manusia Dogiyai.
Seruan-seruan penyatuan anak negeri Dogiyai

Pernyataan penyatuan Mahasiswa Dogiyai ini dipertegas juga oleh beberapa mahasiswa Dogiyai di Jawa-Bali; salah satunya oleh Yakobus Woge selaku Kordinator kota studi JogJakarta bahwa “memang di Jogja sini khusus untuk mahasiswa Papua sudah terkotak-kotak, namun kami mahasiswa Dogiyai pada prinsipnya sepakat bahwa kami tetap bersatu dan sepakat akan mendorong semangat persatuan generasi muda dikalangan anak-anak Dogiyai. Disisi lain kami juga akan membangun kemitraan dengan paguyuban-paguyuban mahasiswa Papua yang ada di kota studi Jogjakarta, juga dengan yang lainnya, salah satunya kami sudah membangun kerjasama dengan beberapa pihak kampus di daerah Jogjakarta.

Selanjutnya disambut juga oleh Bernard Agapa, ketua IPMADO Kota Studi Jakarta, kami di Jakarta secara kuantitas mahasiswa Dogiyai memang belum begitu banyak, tetapi mahasiswa Dogiyai yang ada di kota studi Jakarta sudah bersatu dan sedang memulai dengan menggelar beberapa kegiatan, diantaranya: kegiatan mengumpulkan tulisan-tulisan tentang apa saja, lalu kami mencoba membedahnya, dan hasilnya kami sajikan dalam Blogger Ikatan, www.ipmadojkt-news.co.cc. Di sisi lainnya, kami juga menghadapi persoalan dalam mengkoordinir karena luasnya kota Jakarta, tetapi untung kami bisa komunikasi via sms atau telpon genggam, yang terpenting bagi kami adalah kalau kami sudah bersatu, pasti lainnya juga akan bersatu, maka kami tetap mengajak teman-teman untuk bersatu.

Yosias Tebai, ketua IPMADO kota studi Surabaya mengatakan, di Surabaya kapasitas mahasiswa masih minim, namun dengan semangat yang dimiliki mahasiswa asal Dogiyai, kegiatan sering berjalan dan akan berjalan terus. Kegiatan yang kami lakukan seperti: anyam noken kemudian jual, dan beberapa kegiatan lainnya yang bisa menyatukan kami semua. Walau dalam prosesnya banyak kendala yang kami hadapi.

Suara-suara perempuan Dogiyai

Lidia Adii, Mahasiswi Stikes Wira Husada Jogjakarta, menyatakan bahwa mahasiswa sebagai punggung, jangan kita santai-santai sepanjang kita dalam studi, karena di daerah bukan membutuhkan teori-teori, tetapi di daerah saat ini membutuhkan orang-orang yang mampu menyelesaikan persoalan rakyat. Sementara itu, kita jangan buru-buru bermimpi bahwa semudah kita bisa bersatu, karena teman-teman dari kota studi lain belum tentu menerima, contoh di Jayapura, mereka terlalu banyak juga, sementara selama kita komunikasi dengan mereka pun hanya sekedar person-person dan juga hanya sebatas persahabatan, maka kita tanyakan dulu kepada mahasiswa di sana, selain itu belum tentu pemerintah Daerah Dogiyai sepakat dan mendukung persatuan kita, tetapi saya optimis bahwa dengan semangat “Generasi muda Dogiyai” apa susahnya kita bersatu.

Ance Waine, kita bicara persatuan, tetapi apa konsep persatuan mahasiswa yang kita tawarkannya dan bagaimana caranya kita bisa menyatukan, apa lagi kami mahasiswa baru yang sedang memulai belajar di sini. Selain itu saya juga setuju dan sepakat kalau mahasiswa khususnya Dogiyai bersatu dalam satu ikatan dan persatuannya.
Kalau kita sadar bahwa setelah selesai kuliah dan kita akan kembali ke Dogiyai, dan di sana kita akan buat apa kalau kita masih berbeda terus dan itu berlanjut dalam pemahamannya dan hal ini jangan kita biarkan terus tetapi kita harus akhiri.

Sikap IPMADO, sebagaimana yang telah ditetapkan dalam konggres Mahasiswa Dogiyai di Semarang (16/5), kami tetap akan mendorong persatuan dan kesatuan antara Mahasiswa Dogiyai secara nasional, sekalipun teman-teman kota studi lain mereka tidak setuju akan hal itu, karena kota yang tidak setuju itulah yang selama ini tanamkan sikap Egois dan sentiment kebanggaan kota studinya.

Matheus Auwe Selaku ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Dogiyai Se-Jawa dan Bali, dengan semangat persatuan dari teman-teman di setiap kota studi, saya tetap akan mendorong persatuan dan kesatuan bagi Mahasiswa Dogiyai secara nasional guna membangun pemahaman mahasiswa Dogiyai kedepan.

Ikatan pelajar dan Mahasiswa Dogiyai se Jawa dan Bali menyeruhkan kepada mahasiswa Dogiyai di seluruh kota study bahwa “pentingnya membangun persatuan dan pemahaman persatuan ” dalam satu wadah


Salinan hasil pertemuan rapat koordinasi kerja IPMADO

3 komentar:

IPMADO JAKARTA® mengatakan...

Maju.. dan saling mendukung.. Jah Rasta, Jesus Bless we all..

FREE WEST PAPUA mengatakan...

Iya...! Coba MEMERKAN PIKIRAN yang banyak terjadi di Papuakah? jangan pemekaran Provinsi, Kabupaten, Distrik dan Kampung karena itu adalah Jalan menuju Pemisahan Suku yang sedang dilakukan Oleh NKRI tetapi saya inginkan IPMADO SEJAWA BALI menjadi tempat "memerkan memikiran" Sukses buat IPMADO ya...?

octho mengatakan...

Dear, IPMADO yng terhormat

Jujur, secara pribadi saya salah satu orang yang sangat anti dengan PEMEKARAN sebuah wilayah. secara khusus Pro dan kontra pemekaran Kabuapten Dogiyai yang pernah di paparkan Penulis Muda Papua Yakobus F Dumupa dalam bukunya sudah memberikan sebuah gambaran singkat kepada semua kita, bahwa pemekaran daerah baru di papua, termasuk dogiyai bahkan deiyai dan intan jaya sekalipun bukanlah sebuah solusi menjawab ketertinggalan rakyat Papua seperti yang di paparkan tuan Sesco Dimi dalam arahan di atas.

Saya tidak ingin panjang lebar uraikan dampak negatife dari pada pemekaran sebuah daerah baru. Pemekaran daerah baru yng di klaim dapat membawah kesejahteraan bagi rakyat Papua hanyalah perpesan kosong. Coba lihat, apa yang terjadi dengan pemekaran daerah baru di Papua.

contoh kongkrit Mamberamo Raya, hal ini sudah tentu memudahkan TNI/POLRI menciptakan konflik horizontal yang ujung-ujungnya rakyat Papua sendiri yang menjadi korban. Yang di takutkan, jangan ada mamberamo2 lain, jangan ada yahukimo2 lain bahkan jangan ada temberau2 lain di Papua yang jadi korban dari keganasan Pemerintah RI.

Untuk pengurus yang ada dalam tubuh IPMADO tetap jaga persatuan dan kesatuan, kemduai untuk anggotanya tetap menjadikan ikatan itu sebagai tempat tumbuh kembangnay Sumber Daya manusia kita yang masih terselubung.

Salam dari Nabire buat semua anak-anak dogiyai yang sedang berjuang untuk tanah kelahirannya yang saat ini telah menjadi korban dari kebijakan jakarta dan pejabat Papua yang sungguh gombal. kita telah menjadi korban, bukan berarti kita menyerah dengan keadaan, tapi tetap tunjukan bahwa kita hanya berada pada posisi yang tidak menguntungkan.

salam JUANG....amanai!!!!!

Posting Komentar

Pesan Anda

 
 
 

Pengikut

Daftar Isi